Takluk, frustasi, kangen.
Itulah yang dirasakan Bima, pemuda berusia 20 tahun itu baru saja dikalahkan ambisinya sendiri. Dia sedang patah hati, membawa ironi ke dalam hati.
Bima percaya dia benar, dia melakukannya dengan benar. Dia bukan budak cinta, dia bukan hal remeh seperti itu. Bima seperti pria chad yang tak akan takluk wanita manapun, secantik apapun itu.
Namun, kali ini dia mengakuinya, dia kalah dalam peperangan batin ini. Memang Bima tahu wanita adalah fitnah terbesar bagi kaum Adam. Bahkan Adam pula takluk dengan wanita. Itulah alasan mengapa manusia tidak berada di Surga. Gara-gara siapa? Fitnah wanita.
Bima tersungkur di bawah sofanya, rindu dengan sosok yang dicintainya. Mereka hanya sebatas teman, mereka juga tidak terlalu dekat, namun Bima salah mengaritikannya.
Ia jatuh dalam pelukan wanita itu, membawa malapetaka. Hatinya hancur sehancurnya.
"Apa salahku Tuhan?"
"Apa aku terlalu jauh darimu, sampai Engkau menghajarku tanpa ampun seperti ini?" Ia terisak, air mengucur melalui matanya.
"Jika ini untuk kebaikan kita dan jalan terbaik untuk kia, aku bersedia menanggungnya."
"Semoga ini adalah jawaban dari doaku untuknya."
Bima masih terisak, televisi menyala di depan sana, jam berdenting dengan konstannya. Dini hari ia masih teriris, bukan tangan, bukan tubuh. Namun hatinya teriris.
Hatinya sesak, dia selalu memikirkan kekasihnya yang tak kunjung bertemu. Dia ada disana, namun tidak pernah bertanya.
"Jika ini memang takdirku Tuhan."
"Aku akan mengikutinya dengan senang hati, aku akan mengikuti jalan kebenaran yang Engkau buat sedemikian rupa."
Bima bangkit dari duduknya, ia meraba sofanya. Menekan tombol merah di remotenya.Televisi diam, tidak berbunyi kembali.
"Sekarang, aku harus bangkit." Bima memegangi kepalanya, mengucel-ucel rambutnya.
"Lupakan dengan kemesraan itu, lupakan dengan pembicaraan mendalam, mimpi-mimpi kita dulu."
"Sekarang dia milik orang lain, pula kamu sudah bahagia, bahkan dia juga berfoto ria dengan pasangannya, ditambah dengan anak balita yang berada diantara mereka berdua. Tabik denganku, siapa aku?"
"Aku harus bangkit." Bima mengangguk paham, meski matanya tetap mengalir deras. Mau tidak mau ia harus berani untuk mengambil keputusan.
"Ak... aku harus bangkit." Ucapnya untuk kesekian kalinya.
Posting Komentar untuk "Cerita Bima dan Kekasih Hatinya"